Perguruan Attaqwa kembali menyelenggarakan kegiatan Halalbihalal sebagai momentum strategis untuk memperkuat konsolidasi kelembagaan, meneguhkan arah pendidikan, serta memperluas jejaring kolaborasi dalam pengembangan ekosistem pendidikan yang berkelanjutan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi tahunan, tetapi juga ruang refleksi dan afirmasi komitmen Perguruan Attaqwa dalam membangun sistem pendidikan yang terintegrasi dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Kegiatan dihadiri oleh seluruh Kepala Madrasah dan Sekolah di lingkungan Perguruan Attaqwa, Mudir Ma’had Aly, Rektor Institut Attaqwa KH. Noer Alie, serta unsur Badan Pembina, Badan Pengawas, dan Badan Pengurus Yayasan Attaqwa. Turut hadir sebagai mitra strategis, pimpinan Universitas Muhammadiyah Jakarta, di antaranya Prof. Dr. Ma’mun Murod (Rektor), Dr. Imam Mujtaba (Dekan FIP), Dr. Ernyasih (Dekan FKM), Dr. Muhammad Sahrul (Wakil Dekan FISIP), serta Djoni Gunanto, M.Si. (Direktur PMB).
Konsolidasi Pendidikan: Skala, Capaian, dan Arah Pengembangan
Dalam laporan kelembagaan yang disampaikan oleh Khaerul Umam Noer selaku Sekretaris Perguruan, ditegaskan bahwa Perguruan Attaqwa saat ini mengelola ekosistem pendidikan yang luas dan berjenjang. Pada tahun akademik 2025/2026, Attaqwa akan meluluskan sebanyak 8.758 peserta didik yang berasal dari 172 satuan pendidikan, 6 pondok pesantren, dan 2 perguruan tinggi.
Sebagai bagian dari penguatan mutu lulusan, sebelum pelaksanaan Halalbihalal, telah dilaksanakan Apel Ujian Praktik Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) dan Praktik Ibadah bagi siswa kelas VI MI/SDIT, yang diikuti oleh 3.327 siswa. Kegiatan ini menjadi bagian dari standar kompetensi khas Attaqwa yang menekankan integrasi antara kemampuan akademik dan penguasaan dasar-dasar keislaman.
Capaian ini menunjukkan bahwa Perguruan Attaqwa tidak hanya berkembang secara kuantitatif, tetapi juga terus memperkuat kualitas pendidikan berbasis nilai sebagai fondasi utama.
Penguatan Kolaborasi Strategis: Dari MoU ke Implementasi Nyata
Sebagai bagian dari agenda utama, Perguruan Attaqwa bersama Ma’had Aly Attaqwa KH. Noer Alie dan Institut Attaqwa KH. Noer Alie secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Sebanyak 3 Nota Kesepahaman dan 10 Perjanjian Kerjasama ditandatangani sebagai langkah konkret memperkuat sinergi antar lembaga dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kerjasama ini dirancang sebagai platform kolaboratif yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan tata kelola pendidikan, serta pengembangan inovasi berbasis riset.
Dalam bidang pendidikan, kolaborasi diarahkan pada pembukaan akses melalui program beasiswa bagi alumni dan guru, pendampingan manajerial sekolah, serta mobilitas akademik melalui pertukaran mahasiswa dan dosen. Pada bidang penelitian, fokus diarahkan pada riset kolaboratif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, publikasi ilmiah bersama, serta diseminasi hasil penelitian. Sementara itu, pada bidang pengabdian kepada masyarakat, kerjasama difokuskan pada penguatan kapasitas guru dan sekolah, pendampingan kelembagaan, serta pelaksanaan pelatihan dan workshop secara berkelanjutan.
Bagi Perguruan Attaqwa, kolaborasi ini merupakan bagian dari strategi transformasi kelembagaan menuju sistem pendidikan yang lebih terbuka, kolaboratif, dan berdaya saing.
Nilai Inti Pendidikan: Membentuk Insan “Benar dan Pintar”
Dalam tausiah yang disampaikan oleh KH. Abd. Jabar Majid, ditegaskan kembali bahwa arah pendidikan Attaqwa berakar pada pembentukan insan yang “benar dan pintar”. Konsep ini mencerminkan integrasi antara kecerdasan intelektual, kekuatan moral, dan kedalaman spiritual sebagai fondasi utama pendidikan.

Gagasan ini merupakan elaborasi dari pemikiran KH. Noer Alie, yang menempatkan pendidikan sebagai proses pembentukan manusia utuh—yang mampu memadukan iman, ilmu, dan amal dalam kehidupan. Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, integritas, dan tanggung jawab sosial.
Pendekatan ini dinilai semakin relevan dalam konteks nasional, di tengah kebutuhan akan sistem pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan kompeten, tetapi juga berakhlak dan berkepribadian kuat.
Belajar dari Muhammadiyah: Penguatan Sistem dan Keberlanjutan
Perguruan Attaqwa juga menegaskan pentingnya belajar dari pengalaman Muhammadiyah dalam membangun sistem pendidikan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Dalam pandangan Ma’mun Murod, kekuatan Muhammadiyah terletak pada kemampuannya membangun ekosistem pendidikan yang sistemik, berbasis nilai, serta ditopang oleh tata kelola yang kuat.
Bagi Attaqwa, pembelajaran ini memiliki relevansi langsung dalam upaya memperkuat institusionalisasi pendidikan, terutama dalam mengelola jaringan pendidikan yang luas dan beragam. Keterkaitan historis antara Attaqwa dan Muhammadiyah melalui figur KH. Noer Alie juga menjadi landasan penting dalam membangun kolaborasi yang lebih substansial ke depan.

Lebih jauh, prinsip bahwa amal usaha pendidikan adalah milik umat menjadi pijakan dalam membangun tata kelola yang kolektif, akuntabel, dan berkelanjutan. Prinsip ini sejalan dengan komitmen Attaqwa untuk memastikan bahwa seluruh pengembangan pendidikan diarahkan pada kemaslahatan yang lebih luas.
Peneguhan Komitmen dan Arah Ke Depan
Kegiatan Halalbihalal ditutup dengan sambutan Pimpinan Perguruan Attaqwa, KH. Irfan Mas’ud, yang menegaskan bahwa seluruh capaian dan kerjasama yang telah dibangun harus ditindaklanjuti dalam bentuk program nyata yang berdampak.
Halalbihalal ini menjadi titik penting dalam perjalanan Perguruan Attaqwa untuk terus bertransformasi—dari jaringan pendidikan menjadi sistem pendidikan yang kuat, terintegrasi, dan berkelanjutan. Dengan memperkuat nilai, sistem, dan kolaborasi, Attaqwa meneguhkan posisinya sebagai bagian dari upaya bersama dalam membangun pendidikan Indonesia yang berkarakter, berkeadaban, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.




